Love Language: Kenapa Seseorang Sering Sekali Merasa Nggak Dicintai?

 

Ketika Perbedaan Love Language memberikan tekanan pada pasangan

Sumber: Pexels

Dalam hubungan, kita pasti kenal dengan istilah “love language” atau bahasa cinta. Sebuah tindakan yang menunjukkan cinta seseorang pada pasangannya, dan membuat seseorang merasa dicintai oleh pasangannya. Dalam konsep populer, love language terbagi menjadi 5 tipe, yakni: Word of Affirmation (Ungkapan Penegas); Physical Touch (Sentuhan Fisik); Receiving Gifts (Menerima dan Memberikan Hadiah); Quality Time (Waktu Bersama); dan Act of Service (Tindakan Pelayanan).

Namun, nggak sedikit orang yang merasa nggak dicintai pasangannya sekalipun telah berada dalam ikatan yang kuat, seperti pernikahan. Tapi kenapa hal itu terjadi? Lets go kita bahas!

Love Language Sebagai Parameter Kedalaman Cinta Pasangan

Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa dalam sebuah hubungan, love language dianggap sebagai simbol atas rasa cinta. Sayangnya, beberapa orang justru secara mentah mengukur tingkat rasa cinta seseorang berdasarkan love language yang diberikan. Misalnya seseorang dengan love language quality time tapi jarang banget meluangkan waktu bersama, atau orang dengan love language receiving gifts tapi hanya memberi sesuatu yang tekesan minim effort.

Padahal, sekalipun love language itu gambaran dari rasa cinta seseorang, penerapannya nggak selalu bisa secara maksimal, misalnya karena kelelahan, waktu luang yang sangat sedikit, minimnya sumber daya (uang, waktu, dan tenaga) untuk melakukannya. Itu bukan berarti rasa cintanya rendah, hanya saja mereka terhalang untuk menunjukkan itu secara maksimal karena beberapa hal yang sebenarnya bisa dimengerti.

Kegagalan Menangkap Representasi Cinta

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, sayangnya mereka seringkali gagal menangkap wujud dari cinta itu sendiri. Misalnya ketika kita merasa mencintai pasangan kita, namun di waktu yang sama pasangan kita justru nggak merasa dicintai oleh kita.

Ada banyak faktor yang mendasari kondisi demikian, dua kondisi yang paling umum adalah mencintai berdasarkan memenuhi kewajibannya sebagai pasangan dan perbedaan love language kedua pihak dalam satu hubungan.

Misalnya ketika istri melayani suami dan membuatkan bekal untuknya, suami yang meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah istrinya, memberikan hadiah/apresiasi atas upaya istrinya, atau menemani anak ketika makan.

Di sini ada perbedaan mendasar antara love language dan kewajiban seseorang karena status tertentu. Melayani suami, membimbing dan menjaga istri, dan mendampingi perkembangan anak adalah sebuah kewajiban yang orientasinya adalah komitmen. Sedangkan love language adalah tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang untuk mengekspresikan cinta mereka, sehingga orientasinya adalah perasaan cinta seseorang. Keduanya berada di level yang sangat berbeda, karena kewajiban merupakan sebuah tanggung jawab yang mengacu pada komitmen, sedangkan love language merupakan naluri seseorang atas rasa cinta mereka.

Selain itu, perbedaan love language dalam satu hubungan berpotensi mengakibatkan kegagalan menangkap representasi cinta ketika seseorang hanya melihatnya melalui kacamata satu arah. Misalnya menganggap pasangan mencintai kita jika dia melakukan tindakan yang merupakan love language kita, padahal pasangan kita juga memiliki love language-nya sendiri.

Misalnya suami dengan tipe quality time dan istri dengan tipe receiving gifts. Istri yang selalu lelah karena pekerjaan di dalam dan di luar rumah, sehingga jarang memiliki waktu untuk menghabiskan waktu bersama suaminya, kemudian memberikan hadiah sebagai permohonan maaf sekaligus penegasan rasa cintanya. Suami merasa istrinya menghiraukannya dan lebih peduli pada yang lain, sedangkan istri merasa bahwa pemberiannya dihiraukan dan menangkap sinyal bahwa suaminya sudah nggak menyayanginya.

Egoisme Dalam Love Language

Ketika seseorang gagal menangkap representasi cinta dari pasangannya, baik karena bias dengan kewajiban ataupun perbedaan love language yang dimiliki, mereka umumnya langsung beranggapan bahwa pasangan mereka sudah nggak mencintai mereka lagi, bahkan cenderung langsung mengatakan hal tersebut kepada pasangannya sehingga berakhir dengan perseteruan.

Dalam kondisi seperti ini, saling belajar tentang love language pasangan dan mengkompromikannya adalah jalan utama. Karena mencintai bukan berarti selalu memberikan apa yang kita mau, tapi mengerti bahwa dia memberi sesuatu yang menjadi lambang rasa cintanya pada kita.

Kompromi berarti menghilangkan tuntutan untuk selalu mengikuti keinginan kita, tapi juga nggak egois dengan mencoba berusaha memberikan love language kita, sekalipun mungkin terasa asing bagi dia. Hal serupa juga harus kita lakukan dalam rangka kompromi tersebut. Sehingga drama merasa nggak dicintai bisa sedikit berkurang.

Ketika Love Language Menciptakan Ending Yang Buruk

Ketika kita memiliki perbedaan love language dengan pasangan, perlu kita tahu kalau terkadang setiap orang tentu akan berusaha jika memang kita adalah orang yang dicintai, meskipun dengan cara yang berbeda dengan cara kita. Terkadang, menuntut pasangan untuk mencintai versi kita justru akan membebani dan membuat pasangan kita menjalani hubungan dengan kepalsuan, dia nggak memiliki keleluasaan dalam berekspresi.

Di sisi lain, belajar untuk memahami dan memberikan tindakan sesuai love language pasangan juga termasuk sebuah pengorbanan dalam hubungan. Sehingga bukan berarti kita cukup mencintai menurut versi kita saja, melainkan harus juga mencoba untuk belajar mencintai versi pasangan, begitujuga sebaliknya.

Ketika kita hanya mencintai pasangan hanya dengan love language kita saja, maka kita egois karena menuntut pasangan untuk mengerti dan memvalidasi love language kita. Dan saat kita menuntut pasangan untuk mencintai kita versi kita mencintainya, maka kita egois karena menuntut pasangan untuk jadi orang lain. Di sinilah peran komunikasi, saling mengerti, memahami, dan mau belajar berperan untuk menjaga kestabilan hubungan. Kenapa?

"Karena menjalin hubungan dengan menjadi orang lain itu capek. Tapi punya hubungan sama orang yang nggak mau sama-sama belajar juga buang-buang waktu."

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nafsu Itu Modus! Benarkah Begitu?

Ketulusan nggak akan menghapus nafsu. Tapi nafsu nggak selalu mengganggu ketulusan 1.       Cinta Yang Murni VS Modus Banyak yang mengatak...