![]() |
| Ketika Perbedaan Love Language memberikan tekanan pada pasangan |
Dalam hubungan,
kita pasti kenal dengan istilah “love language” atau bahasa cinta.
Sebuah tindakan yang menunjukkan cinta seseorang pada pasangannya, dan membuat
seseorang merasa dicintai oleh pasangannya. Dalam konsep populer, love
language terbagi menjadi 5 tipe, yakni: Word of Affirmation (Ungkapan
Penegas); Physical Touch (Sentuhan Fisik); Receiving Gifts (Menerima
dan Memberikan Hadiah); Quality Time (Waktu Bersama); dan Act of
Service (Tindakan Pelayanan).
Namun, nggak
sedikit orang yang merasa nggak dicintai pasangannya sekalipun telah berada
dalam ikatan yang kuat, seperti pernikahan. Tapi kenapa hal itu terjadi? Lets
go kita bahas!
Love
Language Sebagai Parameter Kedalaman
Cinta Pasangan
Sebagaimana
disinggung sebelumnya, bahwa dalam sebuah hubungan, love language dianggap
sebagai simbol atas rasa cinta. Sayangnya, beberapa orang justru secara mentah
mengukur tingkat rasa cinta seseorang berdasarkan love language yang
diberikan. Misalnya seseorang dengan love language quality time tapi
jarang banget meluangkan waktu bersama, atau orang dengan love language receiving gifts
tapi hanya memberi sesuatu yang tekesan minim effort.
Padahal,
sekalipun love language itu gambaran dari rasa cinta seseorang,
penerapannya nggak selalu bisa secara maksimal, misalnya karena kelelahan,
waktu luang yang sangat sedikit, minimnya sumber daya (uang, waktu, dan tenaga)
untuk melakukannya. Itu bukan berarti rasa cintanya rendah, hanya saja mereka
terhalang untuk menunjukkan itu secara maksimal karena beberapa hal yang
sebenarnya bisa dimengerti.
Kegagalan Menangkap
Representasi Cinta
Setiap orang memiliki kebutuhan untuk
mencintai dan dicintai, sayangnya mereka seringkali gagal menangkap wujud dari
cinta itu sendiri. Misalnya ketika kita merasa mencintai pasangan kita, namun
di waktu yang sama pasangan kita justru nggak merasa dicintai oleh kita.
Ada banyak faktor yang mendasari kondisi
demikian, dua kondisi yang paling umum adalah mencintai berdasarkan memenuhi
kewajibannya sebagai pasangan dan perbedaan love language kedua pihak
dalam satu hubungan.
Misalnya ketika istri melayani suami dan
membuatkan bekal untuknya, suami yang meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh
kesah istrinya, memberikan hadiah/apresiasi atas upaya istrinya, atau menemani
anak ketika makan.
Di sini ada perbedaan mendasar antara love
language dan kewajiban seseorang karena status tertentu. Melayani suami,
membimbing dan menjaga istri, dan mendampingi perkembangan anak adalah sebuah
kewajiban yang orientasinya adalah komitmen. Sedangkan love language adalah
tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang untuk mengekspresikan cinta mereka,
sehingga orientasinya adalah perasaan cinta seseorang. Keduanya berada di level
yang sangat berbeda, karena kewajiban merupakan sebuah tanggung jawab yang
mengacu pada komitmen, sedangkan love language merupakan naluri
seseorang atas rasa cinta mereka.
Selain itu, perbedaan love language dalam satu hubungan berpotensi mengakibatkan
kegagalan menangkap representasi cinta ketika seseorang hanya melihatnya melalui
kacamata satu arah. Misalnya menganggap pasangan mencintai kita jika dia
melakukan tindakan yang merupakan love language kita, padahal pasangan
kita juga memiliki love language-nya sendiri.
Misalnya suami dengan tipe quality
time dan istri dengan tipe receiving gifts. Istri yang selalu lelah
karena pekerjaan di dalam dan di luar rumah, sehingga jarang memiliki waktu
untuk menghabiskan waktu bersama suaminya, kemudian memberikan hadiah sebagai
permohonan maaf sekaligus penegasan rasa cintanya. Suami merasa
istrinya menghiraukannya dan lebih peduli pada yang lain, sedangkan istri
merasa bahwa pemberiannya dihiraukan dan menangkap sinyal bahwa suaminya sudah nggak
menyayanginya.
Egoisme Dalam Love Language
Ketika
seseorang gagal menangkap representasi cinta dari pasangannya, baik karena bias
dengan kewajiban ataupun perbedaan love language yang dimiliki, mereka
umumnya langsung beranggapan bahwa pasangan mereka sudah nggak mencintai mereka
lagi, bahkan cenderung langsung mengatakan hal tersebut kepada pasangannya
sehingga berakhir dengan perseteruan.
Dalam kondisi seperti ini, saling belajar
tentang love language pasangan dan mengkompromikannya adalah jalan
utama. Karena mencintai bukan berarti selalu memberikan apa yang kita mau, tapi
mengerti bahwa dia memberi sesuatu yang menjadi lambang rasa cintanya pada
kita.
Kompromi berarti menghilangkan tuntutan
untuk selalu mengikuti keinginan kita, tapi juga nggak egois dengan mencoba
berusaha memberikan love language kita, sekalipun mungkin terasa asing
bagi dia. Hal serupa juga harus kita lakukan dalam rangka kompromi tersebut. Sehingga drama merasa nggak dicintai bisa sedikit berkurang.
Ketika Love Language Menciptakan Ending Yang Buruk
Ketika kita memiliki perbedaan love language dengan pasangan, perlu kita tahu kalau terkadang setiap orang tentu akan berusaha jika memang kita adalah orang yang dicintai, meskipun dengan cara yang berbeda dengan cara kita. Terkadang, menuntut pasangan untuk mencintai versi kita justru akan membebani dan membuat pasangan kita menjalani hubungan dengan kepalsuan, dia nggak memiliki keleluasaan dalam berekspresi.
Di sisi
lain, belajar untuk memahami dan memberikan tindakan sesuai love language
pasangan juga termasuk sebuah pengorbanan dalam hubungan. Sehingga bukan
berarti kita cukup mencintai menurut versi kita saja, melainkan harus juga
mencoba untuk belajar mencintai versi pasangan, begitujuga sebaliknya.
Ketika kita hanya
mencintai pasangan hanya dengan love language kita saja, maka
kita egois karena menuntut pasangan untuk mengerti dan memvalidasi love
language kita. Dan saat kita menuntut pasangan untuk mencintai kita
versi kita mencintainya, maka kita egois karena menuntut pasangan untuk jadi
orang lain. Di sinilah peran komunikasi, saling mengerti, memahami, dan mau
belajar berperan untuk menjaga kestabilan hubungan. Kenapa?
"Karena menjalin hubungan dengan
menjadi orang lain itu capek. Tapi punya hubungan sama orang yang nggak mau
sama-sama belajar juga buang-buang waktu."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar