Pernah nggak sih kalian nemuin orang tua yang melakukan apa yang dikatakan oleh pendahulu mereka, atau para ahli terkait parenting, pola asuh anak, cara menghadapi remaja di era bandelnya mereka, atau yang lainnya dan gagal? Dan justru terjadi ketegangan atau perselisihan di antara mereka. Seolah teori dari orang yang dianggap "ahli" tidak sesuai dengan realita yang ada.
Atau jangan-jangan, kalian sedang merasakan itu?
Kalau dalam psikologi, seseorang cenderung mengikuti
arahan dari orang yang dia percaya, atau dia yakini bahwa ucapannya adalah
benar. Bisa orang tua, bisa guru, bisa juga para ahli.
Namun, ini juga dialami oleh remaja yang sedang
kepo-keponya dengan gimana cara dunia bekerja. Mesin pemberi informasi seperti
google dan media sosial lainnya memberikan keleluasaan untuk kita bisa
mendapatkan banyak hal, termasuk informasi dari para ahli.
Kalau di dalam Islam, Allah menyebutkan
فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا
تَعْلَمُوْنَۙ ( النحل/16: 43)
Maka,
bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui. (An-Nahl/16:43)
Tapi,
pernah nggak kalian melihat fenomena pertengkaran atau ketegangan antara anak
dan orang tuanya? Padahal orang tua atau anaknya sudah melakukan apa yang
dikatakan oleh guru atau para ahli.
Artikel
ini ditulis bukan untuk membela anak, ataupun orang tua. Sehingga tulisan ini
menyoroti keduanya. Kenapa? Karena tindakan yang demikian memang bisa dilakukan
oleh anak ataupun orang tua.
Sebenarnya,
tidak ada yang salah dari mengikuti ucapan/saran orang yang memang ahli di
bidang tersebut. Misalnya mengikuti instruksi dokter saat sakit, mengikuti
saran guru ketika sedang bingung perihal pengetahuan, atau mengikuti anjuran
mekanik bengkel saat motor kita mogok.
Bukan
hanya karena Allah menyuruh itu atau psikologi menyatakan itu. Tapi karena otak
normal kita juga mengatakan bahwa dia yang tahu jalannya, jadi kita bisa ikuti
arahan darinya. Namun, terkadang kita yang salah dalam memahami atau mengambil
makna dari klaim/statement tersebut. Atau lebih tepatnya, kita salah memahami
“siapa itu orang yang memiliki pengetahuan itu?”
Mungkin,
dokter adalah orang yang tahu tentang kesehatan, guru adalah orang yang tahu
tentang pengetahuan, dan psikolog adalah orang yang tahu tentang kondisi
seseorang. Setidaknya, mereka tahu secara general, sebelum mereka bertanya
langsung secara spesifik kepada orang yang bersangkutan.
Jadi,
dalam hal parenting, mengasuh anak, atau interaksi dengan anak atau orang tua,
psikolog bisa saja memberikan saran berdasarkan pola interaksi secara umum
secara psikologi, guru juga bisa memberikan saran berdasarkan pengetahuannya
dalam sosial dan agama. Tapi, mereka tetap perlu berinteraksi langsung dengan
anak atau orang tua tersebut untuk bisa setidaknya memprediksi bagaimana pola
interaksi yang lebih tepat dan efektif.
Artinya,
orang yang ahli di bidang-bidang tersebut sangat mampu memberikan saran, tapi
bukan berarti mereka yang paling tahu tentang hal itu. Kenapa? Karena manusia
tercipta sebagai makhluk yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, itulah
sebabnya ilmu tentang manusia selalu saja berkembang dan belum finish.
Kita
sama-sama tahu bahwa cara yang salah akan melahirkan hasil yang kurang baik,
atau bahkan buruk. Oleh sebab itu, penting untuk benar-benar tahu cara mengasuh
anak, parenting, atau interaksi antara anak dan orang tua. Namun, siapa yang
benar-benar tahu tentang ini?
Jika
untuk hal yang berkaitan dengan anak, maka anaklah yang paling tahu tentang
dirinya, sepanjang mereka sudah bisa berfikir secara mandiri. Tapi, untuk hal
yang berkaitan dengan orang tua, maka merekalah yang paling tahu. Konsultasi dengan orang yang bahkan belum pernah bertemu dengan anak atau orang tua kita belum tentu bisa membantu sepenuhnya. Mereka justru mungkin akan menyarankan untuk mencoba mengenali karakter anak atau orang tua kita.
Coba
sedikit kita pikirkan, beberapa perseteruan antara orang tua dengan anak mereka
ketika mengasuh. Itu karena orang tua menggunakan pemikiran dan cara yang
digunakan oleh pendahulu mereka atau orang ahli menurut mereka. Tapi, apakah
mereka pernah sekali saja belajar tentang bagaimana anak mereka berfikir?
Bagaimana anak mereka bertindak? Dan bagaimana anak mereka merespon sesuatu? Begitupula yang terjadi dalam perseteruan antara anak dengan orang tuanya yang tentunya memiliki gap generation.
Jika saya adalah anak dengan orang tua yang demikian, saya akan mengatakan kepada mereka:
“Aku adalah aku, kenapa kalian langsung melakukan apa yang orang lain katakan
untuk mendidikku daripada belajar bagaimana caraku belajar dan berfikir, atau bertanya
langsung bagaimana proses dan model komunikasi yang aku sukai?”
Dan
jika saya adalah orang tua dengan anak yang demikian, saya akan mengatakan
kepada mereka:
“Aku adalah orang tuamu, orang yang selalu ada sepanjang hidupmu. Bagaimana kamu bisa
menghadapiku dengan cara yang orang lain katakan? Bukan yang aku inginkan? Apakah kamu nggak mengenali orang tuamu?”
