Aku VS Mereka: Ketika Anak dan Orang Tua Tak Seperti Teori Para Ahli

Sumber: Pinterest

Pernah nggak sih kalian nemuin orang tua yang melakukan apa yang dikatakan oleh pendahulu mereka, atau para ahli terkait parenting, pola asuh anak, cara menghadapi remaja di era bandelnya mereka, atau yang lainnya dan gagal? Dan justru terjadi ketegangan atau perselisihan di antara mereka. Seolah teori dari orang yang dianggap "ahli" tidak sesuai dengan realita yang ada.

Atau jangan-jangan, kalian sedang merasakan itu?

Kalau dalam psikologi, seseorang cenderung mengikuti arahan dari orang yang dia percaya, atau dia yakini bahwa ucapannya adalah benar. Bisa orang tua, bisa guru, bisa juga para ahli.

Namun, ini juga dialami oleh remaja yang sedang kepo-keponya dengan gimana cara dunia bekerja. Mesin pemberi informasi seperti google dan media sosial lainnya memberikan keleluasaan untuk kita bisa mendapatkan banyak hal, termasuk informasi dari para ahli.

Kalau di dalam Islam, Allah menyebutkan

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ ( النحل/16: 43)

Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (An-Nahl/16:43)

Tapi, pernah nggak kalian melihat fenomena pertengkaran atau ketegangan antara anak dan orang tuanya? Padahal orang tua atau anaknya sudah melakukan apa yang dikatakan oleh guru atau para ahli.

Artikel ini ditulis bukan untuk membela anak, ataupun orang tua. Sehingga tulisan ini menyoroti keduanya. Kenapa? Karena tindakan yang demikian memang bisa dilakukan oleh anak ataupun orang tua.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dari mengikuti ucapan/saran orang yang memang ahli di bidang tersebut. Misalnya mengikuti instruksi dokter saat sakit, mengikuti saran guru ketika sedang bingung perihal pengetahuan, atau mengikuti anjuran mekanik bengkel saat motor kita mogok.

Bukan hanya karena Allah menyuruh itu atau psikologi menyatakan itu. Tapi karena otak normal kita juga mengatakan bahwa dia yang tahu jalannya, jadi kita bisa ikuti arahan darinya. Namun, terkadang kita yang salah dalam memahami atau mengambil makna dari klaim/statement tersebut. Atau lebih tepatnya, kita salah memahami “siapa itu orang yang memiliki pengetahuan itu?”

Mungkin, dokter adalah orang yang tahu tentang kesehatan, guru adalah orang yang tahu tentang pengetahuan, dan psikolog adalah orang yang tahu tentang kondisi seseorang. Setidaknya, mereka tahu secara general, sebelum mereka bertanya langsung secara spesifik kepada orang yang bersangkutan.

Jadi, dalam hal parenting, mengasuh anak, atau interaksi dengan anak atau orang tua, psikolog bisa saja memberikan saran berdasarkan pola interaksi secara umum secara psikologi, guru juga bisa memberikan saran berdasarkan pengetahuannya dalam sosial dan agama. Tapi, mereka tetap perlu berinteraksi langsung dengan anak atau orang tua tersebut untuk bisa setidaknya memprediksi bagaimana pola interaksi yang lebih tepat dan efektif.

Artinya, orang yang ahli di bidang-bidang tersebut sangat mampu memberikan saran, tapi bukan berarti mereka yang paling tahu tentang hal itu. Kenapa? Karena manusia tercipta sebagai makhluk yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, itulah sebabnya ilmu tentang manusia selalu saja berkembang dan belum finish.

Kita sama-sama tahu bahwa cara yang salah akan melahirkan hasil yang kurang baik, atau bahkan buruk. Oleh sebab itu, penting untuk benar-benar tahu cara mengasuh anak, parenting, atau interaksi antara anak dan orang tua. Namun, siapa yang benar-benar tahu tentang ini?

Jika untuk hal yang berkaitan dengan anak, maka anaklah yang paling tahu tentang dirinya, sepanjang mereka sudah bisa berfikir secara mandiri. Tapi, untuk hal yang berkaitan dengan orang tua, maka merekalah yang paling tahu. Konsultasi dengan orang yang bahkan belum pernah bertemu dengan anak atau orang tua kita belum tentu bisa membantu sepenuhnya. Mereka justru mungkin akan menyarankan untuk mencoba mengenali karakter anak atau orang tua kita.

Coba sedikit kita pikirkan, beberapa perseteruan antara orang tua dengan anak mereka ketika mengasuh. Itu karena orang tua menggunakan pemikiran dan cara yang digunakan oleh pendahulu mereka atau orang ahli menurut mereka. Tapi, apakah mereka pernah sekali saja belajar tentang bagaimana anak mereka berfikir? Bagaimana anak mereka bertindak? Dan bagaimana anak mereka merespon sesuatu? Begitupula yang terjadi dalam perseteruan antara anak dengan orang tuanya yang tentunya memiliki gap generation.

Jika saya adalah anak dengan orang tua yang demikian, saya akan mengatakan kepada mereka:

“Aku adalah aku, kenapa kalian langsung melakukan apa yang orang lain katakan untuk mendidikku daripada belajar bagaimana caraku belajar dan berfikir, atau bertanya langsung bagaimana proses dan model komunikasi yang aku sukai?”

Dan jika saya adalah orang tua dengan anak yang demikian, saya akan mengatakan kepada mereka:

“Aku adalah orang tuamu, orang yang selalu ada sepanjang hidupmu. Bagaimana kamu bisa menghadapiku dengan cara yang orang lain katakan? Bukan yang aku inginkan? Apakah kamu nggak mengenali orang tuamu?

Nafsu Itu Modus! Benarkah Begitu?

Ketulusan nggak akan menghapus nafsu. Tapi nafsu nggak selalu mengganggu ketulusan 1.       Cinta Yang Murni VS Modus Banyak yang mengatak...