Nafsu Itu Modus! Benarkah Begitu?

Ketulusan nggak akan menghapus nafsu. Tapi nafsu nggak selalu mengganggu ketulusan

1.      Cinta Yang Murni VS Modus

Banyak yang mengatakan bahwa cinta itu seharusnya murni dan suci. Adanya nafsu dalam hubungan menandakan kalau hubungan itu hanya modus untuk mendapatkan kepuasan seksual semata. Tapi, emang gitu yah?

Sebelumnya kita perlu tahu bahwa cinta itu perasaan yang mengacu pada keterikatan emosional antara kita dengan orang lain, sedangkan nafsu adalah perasaan yang mengacu pada ketertarikan dan keterikatan fisik antara kita dengan orang lain.

Ada bias makna yang seringkali terjadi di sekitar kita, dimana nafsu selalu memiliki konotasi yang kotor, sedangkan hasrat dan gairah enggak. Padahal ketiganya memiliki makna yang sama.

Dari bias ini, muncul anggapan bahwa nafsu itu mengotori kemurnian cinta, menunjukkan bahwa hubungan yang dijalani hanya sebagai kereta untuk mencapai kebutuhannya berupa hubungan seks, dan anggapan negatif lainnya.

Faktanya, nafsu justru merupakan salah satu unsur dalam cinta, selain keintiman dan komitmen, seperti yang dikatakan Robert Sternberg dalam teorinya, Triangular Theory of Love. Dalam hal ini, nafsu tidak hanya mengacu pada pemenuhan hubungan seks saja, melainkan juga pada tindakan romantis, daya tarik fisik, dan masih banyak lagi.

Artinya, keberadaan nafsu dalam sebuah hubungan tidak bisa langsung dikatakan sebagai indikasi modus. Karena pada dasarnya, manusia yang normal, baik laki-laki maupun perempuan memang didesain untuk memiliki nafsu terhadap lawan jenis, karena berbagai macam hormon yang mereka miliki.

Lalu, jika itu adalah tanda kenormalan manusia, di mana letak salahnya?

2.      Realita Antara Nafsu Dan Ketulusan

Ada sebuah pernyataan bahwa, “Akan selalu ada alasan dibalik perasaan cintamu padanya.” Alasan itulah yang seringkali berupa nafsu

Tapi ada juga yang mengatakan kalau, “Ketika cintamu beralasan, maka alasan itulah yang nantinya menyebabkanmu meninggalkannya.

Lalu, jika cinta nggak beralasan, justru kita nggak akan perlu alasan buat ninggalin dia kan?

Pada dasarnya, seseorang akan memulai hubungan berdasarkan penilaian fisik. Perempuan menyukai laki-laki yang kekar karena dianggap mampu melindungi dan nyaman ketika bergandengan, menyukai laki-laki yang tinggi agar lebih percaya diri saat jalan bersama di luar, atau bahkan menyukai laki-laki yang sedikit gemuk karena fantasi seksualnya.

Begitujuga ketika laki-laki menyukai perempuan yang cantik karena nyaman dipandang, menyukai perempuan yang seksi dan berbetis kecil karena fantasi seksualnya, dan masih banyak lagi.

Ketertarikan pada fisik merupakan hal yang nggak akan pernah bisa disangkal oleh setiap orang, karena itu adalah fitrahnya manusia. Sehingga menuntut ketiadaan nafsu dalam hubungan justru merupakan kenaifan, sekalipun realita menunjukkan bahwa banyak orang menghakimi nafsu dan menuntut ketulusan dalam sebuah hubungan, seolah adanya nafsu dalam hubungan mengganggu ketulusan.

Padahal, banyak orang mengagungkan ketulusan seolah ia tercipta dari ketiadaan nafsu. Kenyataannya? Tidak sedikit ketulusan yang bertahan bukan karena cinta, melainkan karena benefit yang masih bisa diperah.

Demi label ‘tulus’, mereka akan memberikan apapun karena merasa pasangan mereka tulus mencintai. Sebagian yang lain justru rela menjadi budak pasangannya karena merasa bahwa itulah bukti ketulusan. Padahal, apa bedanya ketulusan dengan kebodohan dalam dua contoh itu?

3.      Akhir Dari Nafsu dan Ketulusan

Meskipun nafsu adalah hal yang normal dan wajar dalam sebuah hubungan, bukan berarti kita boleh secara bebas melampiaskannya. Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi norma dan aturan agama, ekspresi dari nafsu inilah yang seringkali bermasalah dalam hubungan.

Nafsu yang nggak terkontrol akan menghasilkan ekspresi yang liar, beberapa wilayah dan lingkungan keluarga memang menormalkan dan mewajarkan beberapa tindakan seperti pegangan tangan, pelukan, ciuman, atau bahwa tinggal bersama. Tapi tidak dengan wilayah dan lingkungan keluarga lainnya.

Dalam hal ini, bukanlah sebuah masalah, melainkan kontrol atas nafsulah yang seringkali bermasalah, Modus dalam sebuah hubungan bukanlah ketika ada nafsu di dalamnya, tapi ketika nafsu menjadi satu-satunya yang dicari dalam hubungan.

Karena dalam hubungan, terkadang hilangnya nafsu justru mengakibatkan keretakan. Tapi nafsu yang liar juga seringkali menghasilkan perpecahan.

Dan yang lebih buruk adalah ketika kata ‘ketulusan’ dijual demi kebodohan untuk menjadi budak yang memberikan segalanya, padahal nggak pernah mendapatkan cinta yang sesungguhnya.

Karena orang paling tulus pun tetap memiliki nafsu yang membara dalam dirinya, hanya saja akal mengekangnya untuk tetap pada posisi yang seharusnya.


Love Language: Kenapa Seseorang Sering Sekali Merasa Nggak Dicintai?

 

Ketika Perbedaan Love Language memberikan tekanan pada pasangan

Sumber: Pexels

Dalam hubungan, kita pasti kenal dengan istilah “love language” atau bahasa cinta. Sebuah tindakan yang menunjukkan cinta seseorang pada pasangannya, dan membuat seseorang merasa dicintai oleh pasangannya. Dalam konsep populer, love language terbagi menjadi 5 tipe, yakni: Word of Affirmation (Ungkapan Penegas); Physical Touch (Sentuhan Fisik); Receiving Gifts (Menerima dan Memberikan Hadiah); Quality Time (Waktu Bersama); dan Act of Service (Tindakan Pelayanan).

Namun, nggak sedikit orang yang merasa nggak dicintai pasangannya sekalipun telah berada dalam ikatan yang kuat, seperti pernikahan. Tapi kenapa hal itu terjadi? Lets go kita bahas!

Love Language Sebagai Parameter Kedalaman Cinta Pasangan

Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa dalam sebuah hubungan, love language dianggap sebagai simbol atas rasa cinta. Sayangnya, beberapa orang justru secara mentah mengukur tingkat rasa cinta seseorang berdasarkan love language yang diberikan. Misalnya seseorang dengan love language quality time tapi jarang banget meluangkan waktu bersama, atau orang dengan love language receiving gifts tapi hanya memberi sesuatu yang tekesan minim effort.

Padahal, sekalipun love language itu gambaran dari rasa cinta seseorang, penerapannya nggak selalu bisa secara maksimal, misalnya karena kelelahan, waktu luang yang sangat sedikit, minimnya sumber daya (uang, waktu, dan tenaga) untuk melakukannya. Itu bukan berarti rasa cintanya rendah, hanya saja mereka terhalang untuk menunjukkan itu secara maksimal karena beberapa hal yang sebenarnya bisa dimengerti.

Kegagalan Menangkap Representasi Cinta

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, sayangnya mereka seringkali gagal menangkap wujud dari cinta itu sendiri. Misalnya ketika kita merasa mencintai pasangan kita, namun di waktu yang sama pasangan kita justru nggak merasa dicintai oleh kita.

Ada banyak faktor yang mendasari kondisi demikian, dua kondisi yang paling umum adalah mencintai berdasarkan memenuhi kewajibannya sebagai pasangan dan perbedaan love language kedua pihak dalam satu hubungan.

Misalnya ketika istri melayani suami dan membuatkan bekal untuknya, suami yang meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah istrinya, memberikan hadiah/apresiasi atas upaya istrinya, atau menemani anak ketika makan.

Di sini ada perbedaan mendasar antara love language dan kewajiban seseorang karena status tertentu. Melayani suami, membimbing dan menjaga istri, dan mendampingi perkembangan anak adalah sebuah kewajiban yang orientasinya adalah komitmen. Sedangkan love language adalah tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang untuk mengekspresikan cinta mereka, sehingga orientasinya adalah perasaan cinta seseorang. Keduanya berada di level yang sangat berbeda, karena kewajiban merupakan sebuah tanggung jawab yang mengacu pada komitmen, sedangkan love language merupakan naluri seseorang atas rasa cinta mereka.

Selain itu, perbedaan love language dalam satu hubungan berpotensi mengakibatkan kegagalan menangkap representasi cinta ketika seseorang hanya melihatnya melalui kacamata satu arah. Misalnya menganggap pasangan mencintai kita jika dia melakukan tindakan yang merupakan love language kita, padahal pasangan kita juga memiliki love language-nya sendiri.

Misalnya suami dengan tipe quality time dan istri dengan tipe receiving gifts. Istri yang selalu lelah karena pekerjaan di dalam dan di luar rumah, sehingga jarang memiliki waktu untuk menghabiskan waktu bersama suaminya, kemudian memberikan hadiah sebagai permohonan maaf sekaligus penegasan rasa cintanya. Suami merasa istrinya menghiraukannya dan lebih peduli pada yang lain, sedangkan istri merasa bahwa pemberiannya dihiraukan dan menangkap sinyal bahwa suaminya sudah nggak menyayanginya.

Egoisme Dalam Love Language

Ketika seseorang gagal menangkap representasi cinta dari pasangannya, baik karena bias dengan kewajiban ataupun perbedaan love language yang dimiliki, mereka umumnya langsung beranggapan bahwa pasangan mereka sudah nggak mencintai mereka lagi, bahkan cenderung langsung mengatakan hal tersebut kepada pasangannya sehingga berakhir dengan perseteruan.

Dalam kondisi seperti ini, saling belajar tentang love language pasangan dan mengkompromikannya adalah jalan utama. Karena mencintai bukan berarti selalu memberikan apa yang kita mau, tapi mengerti bahwa dia memberi sesuatu yang menjadi lambang rasa cintanya pada kita.

Kompromi berarti menghilangkan tuntutan untuk selalu mengikuti keinginan kita, tapi juga nggak egois dengan mencoba berusaha memberikan love language kita, sekalipun mungkin terasa asing bagi dia. Hal serupa juga harus kita lakukan dalam rangka kompromi tersebut. Sehingga drama merasa nggak dicintai bisa sedikit berkurang.

Ketika Love Language Menciptakan Ending Yang Buruk

Ketika kita memiliki perbedaan love language dengan pasangan, perlu kita tahu kalau terkadang setiap orang tentu akan berusaha jika memang kita adalah orang yang dicintai, meskipun dengan cara yang berbeda dengan cara kita. Terkadang, menuntut pasangan untuk mencintai versi kita justru akan membebani dan membuat pasangan kita menjalani hubungan dengan kepalsuan, dia nggak memiliki keleluasaan dalam berekspresi.

Di sisi lain, belajar untuk memahami dan memberikan tindakan sesuai love language pasangan juga termasuk sebuah pengorbanan dalam hubungan. Sehingga bukan berarti kita cukup mencintai menurut versi kita saja, melainkan harus juga mencoba untuk belajar mencintai versi pasangan, begitujuga sebaliknya.

Ketika kita hanya mencintai pasangan hanya dengan love language kita saja, maka kita egois karena menuntut pasangan untuk mengerti dan memvalidasi love language kita. Dan saat kita menuntut pasangan untuk mencintai kita versi kita mencintainya, maka kita egois karena menuntut pasangan untuk jadi orang lain. Di sinilah peran komunikasi, saling mengerti, memahami, dan mau belajar berperan untuk menjaga kestabilan hubungan. Kenapa?

"Karena menjalin hubungan dengan menjadi orang lain itu capek. Tapi punya hubungan sama orang yang nggak mau sama-sama belajar juga buang-buang waktu."

 

Aku VS Mereka: Ketika Anak dan Orang Tua Tak Seperti Teori Para Ahli

Sumber: Pinterest

Pernah nggak sih kalian nemuin orang tua yang melakukan apa yang dikatakan oleh pendahulu mereka, atau para ahli terkait parenting, pola asuh anak, cara menghadapi remaja di era bandelnya mereka, atau yang lainnya dan gagal? Dan justru terjadi ketegangan atau perselisihan di antara mereka. Seolah teori dari orang yang dianggap "ahli" tidak sesuai dengan realita yang ada.

Atau jangan-jangan, kalian sedang merasakan itu?

Kalau dalam psikologi, seseorang cenderung mengikuti arahan dari orang yang dia percaya, atau dia yakini bahwa ucapannya adalah benar. Bisa orang tua, bisa guru, bisa juga para ahli.

Namun, ini juga dialami oleh remaja yang sedang kepo-keponya dengan gimana cara dunia bekerja. Mesin pemberi informasi seperti google dan media sosial lainnya memberikan keleluasaan untuk kita bisa mendapatkan banyak hal, termasuk informasi dari para ahli.

Kalau di dalam Islam, Allah menyebutkan

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ ( النحل/16: 43)

Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (An-Nahl/16:43)

Tapi, pernah nggak kalian melihat fenomena pertengkaran atau ketegangan antara anak dan orang tuanya? Padahal orang tua atau anaknya sudah melakukan apa yang dikatakan oleh guru atau para ahli.

Artikel ini ditulis bukan untuk membela anak, ataupun orang tua. Sehingga tulisan ini menyoroti keduanya. Kenapa? Karena tindakan yang demikian memang bisa dilakukan oleh anak ataupun orang tua.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dari mengikuti ucapan/saran orang yang memang ahli di bidang tersebut. Misalnya mengikuti instruksi dokter saat sakit, mengikuti saran guru ketika sedang bingung perihal pengetahuan, atau mengikuti anjuran mekanik bengkel saat motor kita mogok.

Bukan hanya karena Allah menyuruh itu atau psikologi menyatakan itu. Tapi karena otak normal kita juga mengatakan bahwa dia yang tahu jalannya, jadi kita bisa ikuti arahan darinya. Namun, terkadang kita yang salah dalam memahami atau mengambil makna dari klaim/statement tersebut. Atau lebih tepatnya, kita salah memahami “siapa itu orang yang memiliki pengetahuan itu?”

Mungkin, dokter adalah orang yang tahu tentang kesehatan, guru adalah orang yang tahu tentang pengetahuan, dan psikolog adalah orang yang tahu tentang kondisi seseorang. Setidaknya, mereka tahu secara general, sebelum mereka bertanya langsung secara spesifik kepada orang yang bersangkutan.

Jadi, dalam hal parenting, mengasuh anak, atau interaksi dengan anak atau orang tua, psikolog bisa saja memberikan saran berdasarkan pola interaksi secara umum secara psikologi, guru juga bisa memberikan saran berdasarkan pengetahuannya dalam sosial dan agama. Tapi, mereka tetap perlu berinteraksi langsung dengan anak atau orang tua tersebut untuk bisa setidaknya memprediksi bagaimana pola interaksi yang lebih tepat dan efektif.

Artinya, orang yang ahli di bidang-bidang tersebut sangat mampu memberikan saran, tapi bukan berarti mereka yang paling tahu tentang hal itu. Kenapa? Karena manusia tercipta sebagai makhluk yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, itulah sebabnya ilmu tentang manusia selalu saja berkembang dan belum finish.

Kita sama-sama tahu bahwa cara yang salah akan melahirkan hasil yang kurang baik, atau bahkan buruk. Oleh sebab itu, penting untuk benar-benar tahu cara mengasuh anak, parenting, atau interaksi antara anak dan orang tua. Namun, siapa yang benar-benar tahu tentang ini?

Jika untuk hal yang berkaitan dengan anak, maka anaklah yang paling tahu tentang dirinya, sepanjang mereka sudah bisa berfikir secara mandiri. Tapi, untuk hal yang berkaitan dengan orang tua, maka merekalah yang paling tahu. Konsultasi dengan orang yang bahkan belum pernah bertemu dengan anak atau orang tua kita belum tentu bisa membantu sepenuhnya. Mereka justru mungkin akan menyarankan untuk mencoba mengenali karakter anak atau orang tua kita.

Coba sedikit kita pikirkan, beberapa perseteruan antara orang tua dengan anak mereka ketika mengasuh. Itu karena orang tua menggunakan pemikiran dan cara yang digunakan oleh pendahulu mereka atau orang ahli menurut mereka. Tapi, apakah mereka pernah sekali saja belajar tentang bagaimana anak mereka berfikir? Bagaimana anak mereka bertindak? Dan bagaimana anak mereka merespon sesuatu? Begitupula yang terjadi dalam perseteruan antara anak dengan orang tuanya yang tentunya memiliki gap generation.

Jika saya adalah anak dengan orang tua yang demikian, saya akan mengatakan kepada mereka:

“Aku adalah aku, kenapa kalian langsung melakukan apa yang orang lain katakan untuk mendidikku daripada belajar bagaimana caraku belajar dan berfikir, atau bertanya langsung bagaimana proses dan model komunikasi yang aku sukai?”

Dan jika saya adalah orang tua dengan anak yang demikian, saya akan mengatakan kepada mereka:

“Aku adalah orang tuamu, orang yang selalu ada sepanjang hidupmu. Bagaimana kamu bisa menghadapiku dengan cara yang orang lain katakan? Bukan yang aku inginkan? Apakah kamu nggak mengenali orang tuamu?

Simbolik cinta

Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Kata rahmatan dalam istilah tersebut memiliki banyak sekali presepsi dikalangan ulama maupun cendekiawan muslim, sedangkan makna dasar dari rahmatan ini ialah “kasih sayang”. Sedangkan kata lil alamin memiliki arti “bagi alam semesta”.

Islam adalah agama yang secara normatif mengusung konsep cinta didalamnya, ajaran yang menjamin akan ketentraman dan kedamaian bagi pemeluknya.

عن عبدالله بن عمرو العاص رضي الله عنهما عن النبي صلي الله عليه وسلم قال :((الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِّهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَانَهَى اللّٰهُ عَنْهُ)).متفق عليه.

Dari Abdulah bin Amr al-Ash Ra. dari Nabi SAW. bersabda : ((seorang muslim adalah orang yang kaum muslim selamat dari lisan dan tangannya, dan Muhajir ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh allah swt)). Muttafaq alaih.

Dari hadits diatas dapat kita petik hikmah didalamnya, bahwasannya islam mengajarkan kita untuk saling menjaga, menghormati, dan mengasihi satu sama lain, menjauhkan kita untuk berbuat aniaya kepada sesama, baik melalui lisan maupun perbuatan (tangann).

Ada banyak sekali jenis cinta didunia ini, cinta kepada saudara, cinta kepada lawan jenis, cinta kepada bangsa dan tanah air, dan cinta terhadap orang tua. Islam telah mengatur segala aspek didunia ini, termasuk konsep cinta yang sekarang sedang kita bahas kali ini. Dalam islam banyak sekali tokoh-tokoh yang menginterpretasikan cinta, mulai dari utusan-utusannya sampai para hamba yang dicintainya.

Nabi Yusuf As. dengan Zulaikha adalah salah satu contoh dengan kisah percintaan yang menarik, perjalanan cinta yang penuh lika-liku. Dengan ketampanan Nabi Yusuf, Zulaikha di penuhi oleh nafsu dan selalu menggodanya untuk berbuat hal itu (zina), namun dengan pertolongan allah, Nabi Yusuf terlindung akan hal tersebut, penjara pun sempat menjadi tempat singgah Nabi Yusuf kala itu karena tidak mau melayani Zulaikha, hingga allah mengungkap kebenaran dan membuat Kedzoliman menjadi jelas. Sejak saat itu Zulaikha pun menyadari kesalahannya dan memohon ampun serta mendekatkan diri kepada allah, hingga akhirnya suaminya wafat dan Nabi Yusuf meminangnya. Allah adalah dzat yang maha membolak-balikan hati seorang hamba, ketika Zulaikha berusaha menggapai cinta Nabi Yusuf, maka allah palingkan Yusuf darinya, dan ketika ia mengejar cinta allah, maka allah datangkan Nabi Yusuf kepadanya sebagai bentuk rahmat dan anugrahnya.

Kisah cinta penuh romantik juga datang dari sang Khotamul Anbiya, Nabi Muhammad Saw. dengan Aisyah Ra.. Aisyah dinikahi pada saat usianya  baru 6 tahun (ada yang mengatakan 7 tahun) dan mulai tinggal dengan Nabi pada usia 9 tahun. Dengan usia yang masih belia, Rosulullah tidak menuntutnya untuk bersikap layaknya suami istri, ia tetap memberinya kebebasan untuk menikmati masa anak-anaknya, bahkan tak jarang Rosulullah ikut bermain bersamanya.

Aisyah mengatakan, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi SAW bertanya kepadaku ‘wahai khumaira (panggilan sayang untuk Aisyah), apakah engkau ingin meihat mereka?’, aku menjawab, ‘iya’.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri di pintu, kemudian aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya (setelah agak lama), ‘sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)’, aku menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka.

Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup’, aku pun menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, ‘Sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah SAW di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah.'

Kisah ini menunjukan betapa Rasulullah tak segan memenuhi keinginan istrinya. Karena beliau adalah seorang yang paling lembut dalam segala hal selama masih dalam perkara yang mubah atau diperbolehkan.

Sangat banyak sekali momen-momen romantis yang diberikan Rosulullah kepada Aisyah dalam kisahnya, seperti mandi berdua dalam satu bejana, mengajak Aisyah makan di luar, jalan-jalan sambil berbincang-bincang, lomba lari Rosulullah dan Aisyah, dan masih banyak yang lainnya.

Kelembutan dan perlakuan istimewa yang diberikan Rosulullah kepada Aisyah membuat Aisyah menetap sampai akhir hidupnya dan tidak menikah lagi sepeninggalan beliau, membuat kisah cinta mereka layaknya kisah cinta sejati.

Dari kedua kisah diatas, dapat kita petik banyak pelajaran yang terkandung didalamnya, bebetapa poin terkait simbol cinta yaitu tentang kelembutan, dimana cinta tidak membenarkan adanya kekerasan didalamnya, selain itu juga ketulusan dan kebenaran yang juga menjadi salah satu simbol cinta, itu sebabnya cinta tidak akan pernah bisa disatukan dengan nafsu. Sangat jelas terpatri dalam konsep cinta yang diajarkan oleh nabi Yusuf A.S. dengan Zulaikha, ketika nafsu memenuhi keduanya, maka tidak ada kebahagiaan yang lahir disana, melainkan hanya menimbulkan kerusakan dan kekeliruan, maka ketika cinta berdiri diatas kebenaran yang ditetapkan allah, kebahagiaan akan selalu menyertainya.

Semoga menginspirasi yah!

Good Luck!

Versi terbaik dirimu

 Hidup memang tidak selamanya berhenti pada satu titik, roda kehidupan akan terus berputar, dan kita akan selalu berjalan sesuai perputaran roda kehidupan kita.

Bertemu dan berpisah sudah menjadi hal sangat  wajar kita temui, bahkan itu seolah menjadi hukum alam, bahwa setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Namun apakah kita sudah siap untuk menghadapi perpishan yang akan terjadi kelak?

Wajarnya adalah kita tidak bisa menahan seseorang untuk selalu ada bersama kita, namun kenyataanya, ego membuat kita melupakan hal itu. Hadirnya orang yang kita sayang seolah menjadi sebuah anugrah yang tidak boleh lepas dari jangkauan kita. Tapi takdir adalah takdir, semua yang ditetapkan untuk berpisah akan tetap berpisah, kita hanya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perpisahan itu, meninggalkan atau ditinggalkan adalah suatu keharusan yang akan kita jalani kelak, namun dengan cara dan kondisi seperti apa kita akan pergi adalah pilihan kita. Momen yang indah akan menjadi sebuah kenangan yang amat sulit terlupakan bagi seseorang, tapi tidak jarang bahwa momen yang burukpun menjadi sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

"Bertemu atau berpisah, meninggalkan atau ditinggalkan"

Pada dasarnya memang kedewasaan kita yang dituntut untuk memahami itu semua. Akal yang dipaksa untuk menerima, dan hati yang dipaksa untuk kuat.

Bukan hanya kamu, layaknya manusia memang akan sulit melepaskan dan merelakan. Itu sifat lahiriyah manusia yang menginginkan kebahagiaan, namun setidaknya kita harus tahu bahwa sesuatu yang pergi tidak pantas untuk kita ratapi, apalagi sesali. Jalan yang harus kamu lalui masih terbentang luas, dan selain dia, ada lagi orang yang harus kamu perjuangkan kebahagiaannya, ada lagi orang yang harus kamu kasihi, ada lagi orang yang harus kamu tanggung jawabi.

Jadi tentang kepergian, "Jadilah dirimu dengan versi terbaikmu dalam kondisi apapun"  

Barangkali mau mampir https://fastwork.id/user/irkham20/self-improvement-32591401

charger iman

 

Charger iman

Bicara soal iman, saya punya pendapat sendiri nih, kalo iman itu  seperti imun, kalo imun kita semakin kuat/tebel, kita pasti akan terhindar tuh dari penyakit-penyakit yang berakibat buruk ke diri kita. Begitu pula iman, kalo iman kita semakin tebel/kuat, kita akan terhindar dari hal-hal buruk(maksiat) yang berakibat buruk ke akhirat kita, bahkan juga bisa ke dunia kita loh!

Ada yang setuju ngga?...atau ada pendapat lain dari kalian?...

Nah iman juga seperti baterai hp yang bisa lemah, bisa full, bisa juga di cas/di charger.

Nah sekarang pertanyaan nya bagaimana caranya men-charger atau mengecas iman?...

Layaknya baterai iman juga bisa berkurang seiring berjalannya waktu, di sini akan sebutkan beberapa hal yang bisa menambah keimanan kita, atau bahasa keren nya men-charger iman :

1.    Mentadaburi Al qur’an

Seperti yang kita tahu bahwa al qur’an merupakan sumber hukum nomor 1 di dalam islam mentadaburi/menyelami makna-makna al qur’an dapat menambah tingkat keimanan dan ketakwaan kita, karena di dalamnya terdapat segala hal yang tidak kita ketahui, baik dari masa lampu/ masa kenabian maupun masa depan, tetapi kita tidak bisa sembarangan memaknai al qur’an karena sudah kita ketahui sama-sama bahwasannya sastra yang ada d dalam al qur’an itu sangat tinggi, makannya tidak sedikit orang yang tergelincir/salah saat memaknai maksud dari al qur’an itu sendiri, al qur’an juga banyak membahas tetntang ketuhanan, jadi tidak heran jika orang yang di dalam hatinya ada al quran itu sangat mengenal tuhannya.

2.    Berdzikir

Dzikir sendiri ialah ritual batin untuk mendekatkan diri kepada allah, semakin kita mengingat allah, iman kita akan semakin bertambah dan keragu-raguan pun bisa hilang dari hati kita, jadi jangan lupa untuk selalu berdzikir temen-temen

3.    Tafakkur

Memikirkan ciptaan allah juga bisa menambah keimanan kita, mulai dari penciptaan bumi,hewan,tumbuhan, sampai manusia, dzikir juga bisa mengingatkan kita bahwasannya kita hanyalah makhluk yang di ciptakan, yang seharusnya selalu ingat pada penciptanya

4.    Mencari ilmu

Mencari ilmu juga bisa mencharger iman kita, terutama ilmu agama, karena hanya dengan ilmu kita bisa tau bagaimana caranya ibadah dan mendekatkan diri kepada allah

5.    Beribadah

Seperti yang di sampaikan nabi dalam haditsnya dan ayat al qur’an, ibadah juga bisa meningkatkan keimanan kita, contohnya sholat, shodaqoh, membaca al qur’an, puasa, dan lain sebagainya, karena ibadah adalah sarana utama kita mendekatkan diri kepada allah, dan tentunya itu bisa membuat iman kita meningkat

Segitu aja sih dari saya, kalo ada kesalahan, kekurangan, atau pendapat lain dari temen-temen bisa di share yah, intinya kita belajar bareng agar bisa jadi lebih baik lagi

See you

menjemput rizki

 Menjemput Rizki

Pernah ga sih lo denger kata-kata menjemput rizki, pintu rizki, dan lain sebagainya.

Sebenernya dari mana sih rizki itu berasal, dan pintu rizki itu apa?...dan di mana sih pintu rizki itu?...(ya kalo darimana sih pasti dari allah kan yah).

Seringkali kita denger dari ustad-ustad atau khutbah jum’at  yang ngejelasin kalo 2 rokaat sebelum fajar itu lebih baik daripada dunia  seisinya. Dan kita sering kali berfikir ‘lah apaan, orang cuma 2 rokaat doang, ga nambah duit kita lagi’

Pertama gwe mau jelasin kalo rizki itu bukan cuma berupa uang, bisa kesehatan, bisa umur yang panjang, bisa juga temen yang baik di sekelilig luh.

Lah terus hubungannya 2 rokaat sama rizki itu apaan?...

Kalo menurut buku yang gwe baca, allah itu nurunin seluruh malaikatnya di pagi hari, subuh lebih tepatnya, nah di situ seluruh pintu di buka, entah itu pintu taubat, pintu rahmat, pintu rizki, yang jelas bukan pintu rumah lu, karna lu pasti masih tidur jam segitu :>, itu sebabnya 2 rokaat sebelum fajar itu lebih baik daripada dunia seisinya. Bayangin aja kalo seandainya lo punya dunia seisinya, tapi lo ga dapet rahmat dari allah, lo ga di kasih rizki sehat sama allah, lo sakit-sakitan terus, dan dosa lo ga di ampuni sama allah gara-gara pintu taubat udah ketutup buat lo, tapi lo punya dunia seisinya, mending mana nih?...kalo gw sih yah mending ga dapet dunia deh!!

‘Lah apaan, orang rizki udah di tetapin ko sama allah dari kita baru lahir’.

Secara  fitrah  iya,tapi allah tau nih sifat lahiriahnya manusia itu ingin yang lebih, makannya mereka selalu cari cara biar dapet rizki yang lebih banyak dari asalnya

Nah dari hadits di atas itu allah ngejelasin bahwa kalo seseorang sholat  2 rokaat sebelum fajar, lalu mereka minta sama allah agar pintu rizkinya di lebarkan, maka akan langsung di bukakan lebar-lebar pintu rizki mereka.

Lah ko bisa?...ya karena allah udah janji bakal ngebukain seluruh pintu di waktu itu, salah satunya pintu rizki kita dengan syarat  kita sholat  2 rokaat sebelum fajar.

"lah kenapa  harus 2 rokaat sebelum fajar?..."

karena di saat kebanyakan orang masih tidur, elo sudah memulai hari lo dan elo mulai menjemput rizki lo yang di mulai dengan minta sama allah

Ngomong-ngomong, pintu rizki itu bukan beneran pintu,itu hanya majaz/qiyasan, intinya dari mana lo dapet uang, dari mana lo dapet  makan, dari mana lo dapet sahabat yang baik, dan dari mana lo bisa sehat, itu namanya pintu rizki. Sumber yang dari situ elo dapet uang, dapet makan, dapet lain-lain deh  pokoknya

Pertanyaannya adalah ‘pintu rizki lo terbuka lebar ngga?...atau Cuma kebuka setengah?...atau malah ngga ada setengah?...

Inget sama tulisan di atas?...kalo allah buka seluruh pintu di waktu pagi(subuh) lebar-lebar, seluruh pintu, nah kira-kira kalo pintu udah kebuka lebar masa iya sih mau di tutup lagi, kan engga kan, jadi kalo lo udah buka pintu rizki lo lebar-lebar, percaya deh rizki lo pada hari itu akan ngalir deres, apalagi kalo lo nambahin rumu-rumus  yang di beberin nabi buat nambah deresin rizki lo, kaya sedekah pagi, berbakti sama orang tua, nolong orang yang kesusahan, sholat dhuha, dll

Satu lagi, kalo pintu rizki itu udah lo buka dan allah meridhoi, ga ada satupun yang mampu menutupnya dari lo, tapi kalo pintu itu hanya sedikit dan lo ga mau ngelebarin, ya jangan heran kalo rizki lo seret mulu

Gitu aja sih menurut  gwe. Kalo ada yang salah, kurang tepat atau lo punya pendapat lain, boleh share di komentar yah biar bareng-bareng belajar.

See you

Nafsu Itu Modus! Benarkah Begitu?

Ketulusan nggak akan menghapus nafsu. Tapi nafsu nggak selalu mengganggu ketulusan 1.       Cinta Yang Murni VS Modus Banyak yang mengatak...